Lebih dari Sekadar Kafe: UNESA Coffee Hadir sebagai Ruang Kreatif Inklusif yang Ramah Disabilitas
Kecemedia.unes.ac.id, Surabaya - Di sudut Lobi Rektorat Kampus UNESA 2 Lidah Wetan, tersedia sebuah tempat yang tidak hanya menyajikan kopi. UNESA Coffee hadir sebagai ruang kreatif yang inklusif sebuah transformasi dari sekadar kafe menjadi pusat interaksi tanpa batas bagi seluruh sivitas akademika.
Suasana hangat langsung menyambut siapa pun yang memasuki area ini. Bukan hanya aroma biji kopi yang semerbak, tetapi juga energi positif dari mahasiswa yang sibuk dengan laptop, diskusi kelompok di pojok-pojok estetik, atau sekadar bersantai di deretan sofa yang nyaman. Dilengkapi dengan co-working space yang representatif, UNESA Coffee telah menjadi lokasi favorit bagi para pejuang skripsi, dosen, tenaga kependidikan, hingga atlet berprestasi.
Namun, yang membedakan UNESA Coffee dari kafe-kafe kampus lainnya adalah komitmennya pada aksesibilitas dan inklusivitas. Sekat-sekat keterbatasan dihapus. Fasilitas yang ramah bagi penyandang disabilitas hadir bukan sebagai pelengkap, tetapi sebagai kebutuhan dasar yang dipenuhi dengan penuh kesadaran.
Di tengah hiruk-pikuk pengunjung, tampak sosok inspiratif yang tak asing di dunia olahraga internasional. Leani Ratri Oktila, mahasiswa Pascasarjana Fakultas Ilmu Keolahragaan dan Kesehatan (FIKK) UNESA, yang dikenal dengan julukan "Ratu Bulu Tangkis" Disabilitas Dunia, duduk santai di salah satu sudut kafe. Peraih medali emas di ajang Paralympic Tokyo 2020 dan Paris 2024 ini mengaku menjadikan UNESA Coffee sebagai salah satu tempat favoritnya untuk mengerjakan tugas dan berdiskusi.

"Bagi saya, UNESA Coffee bukan sekadar tempat ngopi. Ini adalah ruang yang memberikan kesetaraan. Aksesibilitasnya sangat memadai, atmosfernya nyaman, dan saya merasa dihargai sebagai individu dengan kebutuhan khusus. Saya bisa fokus belajar, bertemu teman, atau sekadar menikmati waktu sendiri tanpa hambatan," ujar Leani dengan senyum hangat.
Ratri, yang mobilitasnya membutuhkan ruang yang dirancang khusus, mengapresiasi desain UNESA Coffee yang memperhatikan detail-detail kecil namun vital: mulai dari lebar lorong yang cukup untuk kursi roda, meja dengan ketinggian yang sesuai, hingga pencahayaan yang tidak menyilaukan.
Kehadiran UNESA Coffee menjadi bukti bahwa sebuah fasilitas publik di lingkungan kampus tidak boleh hanya mengedepankan keindahan visual. Ia harus mampu merangkul semua kalangan tanpa kecuali. Prinsip inilah yang diusung oleh UNESA dalam merancang kafe ini.
Arsitektur dan tata ruang UNESA Coffee dirancang dengan pendekatan universal design, desain yang dapat diakses, dipahami, dan digunakan oleh semua orang, tanpa memandang usia, ukuran tubuh, maupun kemampuan fisik. Mulai dari pintu masuk yang landai (tanpa tangga), area sirkulasi yang luas, hingga papan petunjuk dengan huruf braille dan kontras warna yang ramah bagi pengunjung dengan gangguan penglihatan.
Bagi mahasiswa UNESA, terutama mereka yang sedang bergelut dengan tugas akhir, UNESA Coffee telah menjadi "rumah kedua". Suasana yang tenang namun tidak kaku, koneksi internet yang stabil, dan akses listrik yang memadai menjadi daya tarik utama.
Kehadiran UNESA Coffee juga menjadi katalis bagi tumbuhnya interaksi lintas disiplin ilmu. Mahasiswa dari fakultas yang berbeda dapat bertemu, bertukar pikiran, atau bahkan berkolaborasi dalam proyek-proyek kreatif. Tidak jarang, dosen dan mahasiswa juga terlihat duduk bersama di kafe ini, membahas penelitian atau sekadar bersilaturahmi di luar suasana formal kelas.
Fasilitas-fasilitas lain di UNESA pun secara bertahap terus dibenahi dengan pendekatan yang sama. Mulai dari jalur pedestrian yang ramah kursi roda, toilet khusus disabilitas, hingga ruang-ruang kelas yang dapat diakses oleh semua mahasiswa.
Leani Ratri Oktila, yang telah merasakan langsung atmosfer inklusif di UNESA, memberikan apresiasi yang tinggi. "Saya sudah berkuliah di beberapa tempat, tapi di UNESA saya benar-benar merasa diperhatikan. Aksesibilitas bukan sekadar fasilitas fisik, tetapi juga tentang sikap dan kesadaran lingkungan. Di sini, saya tidak pernah merasa menjadi beban. Saya hanya menjadi mahasiswa biasa yang ingin belajar dan berprestasi," ujarnya.
Leani berharap bahwa apa yang telah dilakukan UNESA melalui UNESA Coffee dapat menjadi contoh bagi kafe-kafe lain, baik di lingkungan kampus maupun di ruang publik pada umumnya.
"Ruang publik yang inklusif bukan hanya hak, tetapi kebutuhan. Kami, penyandang disabilitas, juga ingin menikmati kopi, mengerjakan tugas, dan bersosialisasi seperti orang lain. Jangan bangun fasilitas yang indah tapi tidak bisa kami akses. Mari bangun ruang yang benar-benar untuk semua," pesannya.
UNESA Coffee telah membuktikan bahwa sebuah kafe bisa menjadi lebih dari sekadar tempat melepas penat. Ia adalah pernyataan bahwa kampus peduli, bahwa aksesibilitas adalah hak, dan bahwa inklusivitas bukan sekadar slogan, melainkan aksi nyata.
Di setiap tegukan kopi, di setiap derap langkah kursi roda yang meluncur mulus, di setiap tawa dan diskusi yang terjadi UNESA Coffee merayakan keberagaman. Dan disanalah keindahan sejati sebuah ruang publik ditemukan, bukan pada kemewahan materialnya, tetapi pada kemampuannya untuk merangkul semua orang, tanpa terkecuali.
***
#UNESAcoffee #Ratri #CivitasAkademika #RumahParaJuara #2026 #WorldClassUniversity #UNESASatulangkahdidepan #BersamaBisaBekerjaSama #IndonesiaEmas2045 #UnityinDiversity
Share It On: