Panggung Wandu: Film Dokumenter Karya Mahasiswa Ilmu Komunikasi UNESA Angkat Sosok Ikonik Ludruk Jawa Timur
Kecemedia.unesa.ac.id, Surabaya - Tiga mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Negeri Surabaya (UNESA) semester delapan membuktikan bahwa tugas akhir tak harus selalu berupa skripsi konvensional. Rahmad Aditya Putra, Fauzyaur Rahma Trisnani, dan Ahdaan Arrafi Hadi sukses menghadirkan karya film dokumenter berjudul "Panggung Wandu" sebagai tugas akhir pengganti skripsi. Film ini mengupas tuntas sosok Wandu dalam kesenian Ludruk Jawa Timur, karakter unik sekaligus ikonik yang selama ini menjadi daya tarik tersendiri dalam setiap pertunjukan.
Film dokumenter yang digarap selama kurang lebih enam bulan ini dipresentasikan melalui agenda Screening Film yang dilanjutkan dengan pemaparan sidang dan sesi tanya jawab bersama para penguji. Acara berlangsung di Home Theater Lantai 1 Rektorat UNESA Kampus 2 Lidah Wetan, dan dihadiri oleh dosen penguji, rekan mahasiswa, serta para pegiat seni dan budaya.
Wandu dalam kesenian Ludruk adalah sosok yang identik dengan kelucuan, kejenakaan, dan sering kali menjadi penyeimbang dalam alur cerita yang serius. Namun, dibalik tawa yang dihadirkan, tersimpan realitas kehidupan yang kompleks. Film "Panggung Wandu" tidak hanya menampilkan Wandu sebagai karakter panggung, tetapi juga menggali lebih dalam mengenai identitas, peran, dan kehidupan pribadi para pemain Wandu di luar panggung.
Melalui pendekatan dokumenter observasional dan wawancara mendalam, ketiga mahasiswa ini berhasil menangkap potret autentik tentang bagaimana para seniman Wandu menjalani hidup, beradaptasi dengan perubahan zaman, serta mempertahankan eksistensi kesenian tradisional di tengah gempuran budaya populer.
Rahmad Aditya Putra, selaku sutradara, menjelaskan motivasi di balik pembuatan film ini.
"Ludruk adalah salah satu warisan budaya Jawa Timur yang sangat kaya. Namun, seiring waktu, minat generasi muda terhadap ludruk semakin menurun. Wandu sebagai karakter ikonik sebenarnya punya daya tarik yang luar biasa. Kami ingin menunjukkan bahwa di balik kelucuan mereka, ada cerita manusiawi yang layak untuk diangkat. Ada perjuangan, ada pengabdian, ada juga dilema identitas yang menarik untuk direnungkan," ujar Rahmad.
Fauzyaur Rahma Trisnani, yang bertindak sebagai produser, menceritakan perjalanan panjang mereka dalam menyelesaikan film ini. Selama enam bulan, tim harus melakukan riset mendalam, berkomunikasi dengan para seniman ludruk, serta melakukan pengambilan gambar di berbagai lokasi, termasuk di sanggar-sanggar seni dan panggung pertunjukan.
"Kami banyak belajar tentang kesabaran dan empati. Para pemain Wandu ini tidak langsung terbuka. Butuh waktu untuk membangun kepercayaan agar mereka mau bercerita tentang kehidupan pribadinya. Kami harus hadir bukan sebagai peneliti yang mengambil data, tapi sebagai teman yang mau mendengar. Pendekatan humanis inilah yang akhirnya membuat mereka nyaman dan mau berbagi," jelas Fauzyaur.
Ahdaan Arrafi Hadi, yang bertanggung jawab sebagai sinematografer, menambahkan bahwa visual menjadi elemen penting dalam menyampaikan pesan.
"Kami ingin penonton tidak hanya mendengar cerita, tetapi juga merasakan atmosfer kehidupan para Wandu. Kami menggunakan pendekatan sinematografi yang intim, close-up yang tajam, serta pengambilan gambar di malam hari saat mereka tampil, untuk menangkap ekspresi dan suasana yang autentik," ungkap Ahdaan.
Setelah melalui proses yang panjang, film "Panggung Wandu" akhirnya dipresentasikan di hadapan para penguji. Screening film dilanjutkan dengan pemaparan konsep, metodologi, dan refleksi atas proses kreatif yang telah dilalui. Sesi tanya jawab berlangsung hangat dan kritis, menunjukkan apresiasi tinggi dari para penguji terhadap kualitas karya yang dihasilkan.
Hasilnya pun memuaskan: ketiga mahasiswa berhasil menyelesaikan tugas akhir dengan nilai A. Capaian ini membuktikan bahwa karya dokumenter dapat menjadi medium alternatif yang tak kalah berkualitas dibandingkan skripsi konvensional dalam penelitian akademik.
Eko Pamuji dan Anam Miftakhul Huda selaku dosen penguji mengapresiasi keberanian para mahasiswa dalam memilih isu budaya lokal yang mungkin selama ini kurang mendapat perhatian di kalangan akademisi.
"Film ini bukan sekadar tugas akhir. Ini adalah karya pelestarian budaya. Mereka tidak hanya menghasilkan film, tetapi juga mendokumentasikan pengetahuan berharga tentang kesenian ludruk yang semakin langka. Pendekatan multidisiplin antara ilmu komunikasi, antropologi, dan seni menjadikan karya ini kaya akan perspektif," ujarnya.
Tak berhenti di ruang sidang, film "Panggung Wandu" juga akan didiseminasikan ke publik. Tim mahasiswa berencana menyerahkan karya ini kepada Radio Republik Indonesia (RRI) sebagai mitra, agar dapat dimanfaatkan sebagai bagian dari upaya pelestarian dan pengenalan kesenian ludruk kepada masyarakat yang lebih luas.
Langkah ini menunjukkan bahwa mahasiswa tidak hanya berorientasi pada nilai akademik, tetapi juga memiliki kesadaran akan dampak sosial dari karya yang mereka hasilkan. Dengan bekerja sama dengan RRI, film dokumenter ini berpotensi menjangkau audiens yang lebih luas, termasuk masyarakat di daerah yang mungkin tidak memiliki akses terhadap pertunjukan ludruk secara langsung.
Keberhasilan "Panggung Wandu" membuka jalan bagi mahasiswa lain untuk mengeksplorasi format tugas akhir alternatif yang kreatif dan berdampak. Film dokumenter terbukti mampu menjadi medium yang efektif untuk menyampaikan riset akademik dengan cara yang lebih menarik dan mudah dicerna oleh publik.
Lebih dari itu, film ini menjadi advokasi budaya yang mengingatkan kita semua bahwa kesenian tradisional seperti ludruk adalah aset berharga yang harus dijaga. Para pemain Wandu, dengan segala kompleksitas hidupnya, adalah pahlawan budaya yang layak mendapat ruang dan apresiasi.
***
#screeningFilm #ilmukomunikasi #CivitasAkademika #RumahParaJuara #2026 #WorldClassUniversity #UNESASatulangkahdidepan #BersamaBisaBekerjaSama #IndonesiaEmas2045 #UnityinDiversity
Share It On: