TRADISI SEDEKAH BUMI: UNGKAPAN SYUKUR DAN PELESTARIAN BUDAYA DI AWAL BULAN SURO
Kecemedia.unesa.ac.id, Surabaya - Setiap awal bulan Muharam atau Suro, masyarakat yang berlokasi di pulau Jawa selalu menggelar Tradisi Sedekah Bumi secara turun-temurun dari nenek moyang orang jawa kuno sebagai bentuk rasa syukur atas hasil panen dan doa supaya pertanian tetap lancar.
Awal mula adanya tradisi Sedekah Bumi yaitu ketika masyarakat mengalami gagal panen yang disebabkan tanaman yang diserang hama, kemarau panjang dan hujan deras yang terjadi selama sehari semalam dan penyebab lainnya. Ada juga masyarakat merasa tidak logis terjadinya gagal panen di desa mereka sehingga mereka harus melakukan kegiatan spiritual dengan membuat sesajen dan membakar kemenyan.
Puncak acara Sedekah Bumi biasanya dilaksanakan di tempat yang telah disepakati, seperti balai desa atau rumah sesepuh kampung. Warga membawa tumpeng sebagai simbol rasa syukur. Setelah itu, tumpeng didoakan oleh sesepuh adat sebelum disantap bersama. Ada yang memilih makan bersama di lokasi acara, dan sebagian lainnya membawa pulang tumpeng untuk dinikmati bersama keluarga.
Selain tumpeng, ada beberapa makanan dan sesajen khas yang punya makna simbolis, seperti:
Ayam panggang berpasangan dengan tumpeng, mempunyai makna yaitu ditujukan kepada seluruh manusia yang hidup agar diberi keselamatan, kesehatan, panjang umur, banyak rizki.
Ayam ingkung berpasangan dengan nasi ambengan, mempunyai makna ditujukan kepada semua leluhur agar diberi ampunan atas dosa-dosa yang mereka perbuat semasa hidupnya.
Nasi golong, mempunyai makna yaitu diajukan kepada danyang (cikal bakal pendiri desa).
Jenang abang putih mempunyai makna yaitu ditujukan kepada leluhur kedua orang tua yang sudah meninggal.
Sego liwet mempunyai makna yaitu diajukan kepada danyang yang mbau rekso (penjaga keselamatan) tempat yang mau dijadikan ritual sedekah desa (dalam hal ini rumah kepala dusun)
Jajanan kecil dan makanan khas daerah, mempunyai makna sebagai ungkapan rasa kasih sayang kepada anak-anak kecil. Dalam hal ini sering disebut bocah angon.
Selain itu, yang penting dalam tradisi ini adalah bubur sura dan Hasil bumi untuk dimakan dan dikuburkan. Bubur suro dibuat dari berbagai biji-bijian, yang hanya boleh dimasak dalam kendi kuali dari tanah. Berbagai jenis hasil bumi, mulai dari biji-bijian, umbi-umbian dan sayuran dan buah, akan dikeluarkan pada acara tersebut dan dimakan bersama-sama. Kepala binatang ternak yang dikurbankan, biasanya akan dikubur.
Sedekah Bumi bukan sekadar tradisi, tapi bentuk nyata rasa syukur masyarakat kepada Tuhan, sekaligus upaya menjaga hubungan baik dengan sesama dan alam. Tradisi ini juga jadi momen mempererat kebersamaan warga. Diharapkan, generasi muda terus melestarikan Sedekah Bumi sebagai bagian dari warisan budaya di tengah perkembangan zaman.
***
#peringatiSuro #Features #SivitasAkademika #RumahParaJuara #2025 #UNESA #WorldClassUniversity #UNESASatulangkahdidepan #BersamaBisaBekerjaSama #IndonesiaEmas2045 #UnityinDiversity
Penulis: Nida Nadiah Zain
Editor : Nando Pudjo
Share It On: