Ketika Layar jadi Beban Mahasiswa: Kenali Apa Itu Digital Burnout
Kecemedia.unesa.ac.id, Surabaya - Memasuki era di mana semua serba online ini, mahasiswa semakin tak dapat sepenuhnya lepas dari pemanfaatan teknologi, salah satunya perangkat digital. Setiap harinya mereka diperlukan untuk mengakses berbagai platform belajar daring, media sosial, dan tetap online demi menunjang kegiatan akademik. Keterlibatan teknologi ini disinyalir memudahkan proses belajar dan komunikasi bagi mahasiswa. Namun di sisi lain, mahasiswa lama kelamaan akan lelah jika harus selalu berkutat dengan perangkat digital untuk segala keperluan kuliah. Kondisi ini adalah cikal bakal munculnya digital burnout jika tidak dikelola dengan bijak.
Apa itu Digital Burnout?
Digital burnout mengacu pada fenomena yang muncul akibat penggunaan perangkat digital secara berlebih. Menurut Erten dan Özdemir dalam studinya berjudul The Digital Burnout Scale Development Study, digital burnout ini menyebabkan berbagai masalah kesehatan mental dan fisik, seperti stress dan kelelahan. Digital burnout dapat menyasar pada kalangan yang seringkali melibatkan perangkat digital dalam kegiatannya.
Bagi mahasiswa, risiko ini semakin tinggi karena berlama-lama berkutat dengan perangkat digital, baik untuk keperluan akademik maupun sosial, bisa memberatkan beban kognitif.
Kenapa Mahasiswa Rentan Terkena Digital Burnout?
Erten dan Özdemir menemukan tiga faktor utama penyebab mahasiswa mudah mengalami digital burnout, di antaranya:
Digital aging
Digital aging, atau penuaan digital, merujuk pada penurunan kognitif dan kelelahan psikis yang diakibatkan penggunaan perangkat digital yang terlalu sering.
Digital deprivation
Digital deprivation, atau deprivasi digital, adalah rasa cemas dan tidak nyaman yang muncul saat seseorang tidak dapat mengakses perangkat digital dan koneksi internet.
Kelelahan emosional
Kelelahan ini menggambarkan dampak psikis dari keterlibatan digital yang ditandai dengan rasa lelah berkepanjangan dan menurunnya kualitas hubungan dan komunikasi sehari-hari.
Karena faktor-faktor di atas sering muncul di keseharian mahasiswa, wajar kalau digital burnout jadi masalah yang perlu segera ditangani.
Kiat Praktik Mencegah dan Mengatasi Digital Burnout
Berdasakan temuan Erten dan Özdemir, digital burnout dapat dicegah dan diatasi dengan menerapkan beberapa rekomendasi sebagai berikut.
Digital detox
Luangkan waktu sejenak untuk lepas dari perangkat digital. Detoks ini bisa membantu mengurangi ketergantungan dan membuat pikiran lebih jernih.
Mindfulness practice
Praktik mindfulness atau meditasi ringan setiap hari dapat mengurangi stress dan meningkatakan fokus, misalnya melalui napas dalam atau guided meditation.
Aktif di kampus
Ikut acara atau organisasi yang mendorong interaksi sosial secara langsung dapat meningkatkan produktivitas dan mengurangi isolasi digital.
Batasi multitasking digital
Fokus pada satu tugas di satu waktu dapat menurunkan stres dan efektivitas kerja dibanding dengan membuka banyak aplikasi sekaligus.
Pakai digital tools dengan bijak
Aplikasi digital well-being bisa membantu memantau penggunaan perangkat dan meningkatkan untuk istirahat, sehingga keseimbangan digital lebih terjaga.
Seiring berjalannya waktu, perkembangan teknologi akan semakin pesat, dan sebagai generasi muda, mahasiswa tetap harus catch up dengan kemajuan tersebut. Akan tetapi, penggunaan teknologi digital yang berlebihan juga membawa risiko, sehingga penting untuk memanfaatkan teknologi secara bijak dalam keseharian. Jika mahasiswa memahami resiko ini, digital burnout bisa dihindari, misalnya dengan kontrol penggunaan perangkat, atur screentime, hindari multitasking, sampai ambil jeda dari layar.
Referensi
ERTEN, P., & ÖZDEMİR, O.(2020). The Digital Burnout Scale Development Study. 21(2), 668–683.
***
#DigitalBurnout #minimalisirlayar #SivitasAkademika #RumahParaJuara #2025 #WorldClassUniversity #UNESASatulangkahdidepan #BersamaBisaBekerjaSama #IndonesiaEmas2045 #UnityinDiversity
Penulis : Firda Aulia Zahro
Editor : Nando Pudjo
Share It On: