Merayakan Maulid Nabi: Antara Iman, Kebudayaan dan Tradisi.
Kecemedia.unesa.ac.id, Surabaya - Setiap tanggal 12 Rabiul Awal, umat Islam di seluruh dunia memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW. Di Indonesia sendiri, perayaan Maulid Nabi tidak hanya bermakna religius, tetapi juga sarat nilai budaya yang masih terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Kalau kita perhatikan, setiap daerah mempunyai cara unik masing masing dalam merayakan Maulid. Misalnya, di Jawa ada tradisi gerebeg maulid dengan gunungan hasil bumi. Di Madura dikenal toktokan bedug yang meriah atau pengajian dengan sajian makanan khas. Sementara di Bugis, ada acara maudu lompoa, di mana masyarakat berkumpul membawa makanan tradisional lalu dibagikan ke semua orang. “Seru banget kan?”. Semua itu jadi bukti kalau perayaan ini bukan sekadar acara keagamaan, tetapi juga ruang berkumpul, berbagi, dan melestarikan budaya lokal. Yang menarik, tradisi Maulid juga selalu menyelipkan nilai kebersamaan. Anak muda biasanya terlibat dalam berbagai kegiatan, mulai dari kirab budaya, marawis, hadrah, sampai lomba-lomba kreatif. Selain menambah pengalaman spiritual, momen ini juga memperluas jaringan sosial kita, karena siapa tahu, dari ikut kegiatan Maulid ini kita bisa mendapatkan teman baru, komunitas baru, bahkan peluang kolaborasi.
Bagi anak muda, Maulid Nabi bisa jadi ajang untuk melihat bagaimana agama dan budaya berjalan berdampingan. Selain memperingati sejarah lahirnya Rasulullah, kita juga bisa belajar nilai kebersamaan, berbagi, dan gotong royong dari tradisi ini. Jadi, bukan cuma soal ritual, tapi juga cara menjaga identitas budaya yang sudah diwariskan secara turun-temurun.
Lebih dari itu, Maulid Nabi juga mengajarkan kita soal identitas. Kita bisa lihat bagaimana budaya Nusantara beradaptasi dengan ajaran Islam tanpa kehilangan jati diri. Perpaduan antara dakwah dan budaya lokal menciptakan warna unik yang bikin perayaan Maulid di Indonesia terasa berbeda dibanding negara lain.
Nah, buat generasi muda, memahami Maulid Nabi dari sudut pandang kebudayaan itu penting. Bukan hanya soal sejarah kelahiran Rasulullah, tapi juga soal bagaimana kita menjaga tradisi agar tetap relevan. Di tengah era digital, kita bisa ikut melestarikan perayaan Maulid dengan cara kreatif: dokumentasi di media sosial, membuat konten edukatif, atau sekadar berbagi pengalaman pribadi tentang makna perayaan ini.
Pada akhirnya, Maulid Nabi adalah ruang untuk refleksi sekaligus apresiasi budaya. Kita belajar mencintai Nabi Muhammad SAW, sekaligus menghargai kearifan lokal yang diwariskan turun-temurun. Jadi, kalau tahun ini ada acara Maulid di sekitar kamu, coba deh ikut. Siapa tahu, kamu tidak hanya mendapatkan ketenangan batin, tapi juga makin cinta sama budaya Indonesia.
Jadi, Maulid Nabi tahun ini bukan sekadar tanggal merah, tapi momen untuk merenung, bersyukur, sekaligus menjaga warisan budaya. Yuk, rayakan hari kelahiran Rasulullah dengan cara yang bermakna!
***
#MaulidNabi #Budaya #SivitasAkademika #RumahParaJuara #2025 #WorldClassUniversity #UNESASatulangkahdidepan #BersamaBisaBekerjaSama #IndonesiaEmas2045 #UnityinDiversity
Penulis : Indira Zhafirah Putri Negara
Editor : Nando Pudjo
Share It On: