Sudah Bukan SMA Lagi, tapi juga Belum Sepenuhnya Mahasiswa
Kecemedia.unesa.ac.id, Surabaya - Tidak ada yang bilang menjadi mahasiswa baru adalah momen biasa yang dengan mudahnya berlalu. Justru, menjadi maba adalah fase yang tak terlupakan, penuh warna dan rasa.
Dalam derap langkah menyusuri jembatan menuju jenjang pendidikan baru, terbentang rasa semangat yang menggebu-gebu menyambut dunia baru, juga kekhawatiran akan rintangan yang tak sekalipun pernah dihadapi. Semua orang pernah melalui fase ini, begitupun mereka yang cemas, apakah aku bisa beradaptasi? Sudahkah aku siap menghadapi dunia kampus yang katanya serba mandiri?
Di tengah gembiranya ospek, inaugurasi, dan pekan raya mahasiswa, banyak maba menemukan dirinya terjebak di antara zona tengah-tengah. Sudah bukan anak SMA, tapi belum benar-benar merasa jadi mahasiswa seutuhnya. Pola belajar yang masih menunggu arahan guru bertemu dengan tuntutan adaptasi gaya belajar perkuliahan yang lebih mandiri dan butuh inisiatif sendiri. Peralihan seperti ini yang sering buat maba berpikir, bagaimana caranya agar tetap enjoy suasana baru sambil menjalankan ritme belajar yang jelas berbeda?
Fase adaptasi yang tidak terhindarkan
Fase adaptasi maba memanglah masa-masa yang tidak bisa dihindari setiap mahasiswa, dan di balik euforianya, masih ada tantangan untuk tetap bisa “riding the wave” di serba-serbi kuliah yang lebih bebas tapi juga lebih berat. Contohnya, jam kuliah bisa mulai lebih siang dari jam sekolah, jika dosen tidak hadir maka kelas otomatis dinyatakan kosong–mahasiswa tidak diawasi, dan waktu jeda panjang sering membuat gabut.
Belum lagi jika disertai culture shock, tinggal di kos untuk pertama kali, bertemu teman dengan seribu ragam latar belakang, cara gaul baru, sampai cara mengajar dosen yang bermacam-macam. Semuanya serba asing, pun rasanya ada saja hal baru yang harus dibiasakan setiap harinya.
Find the silver lining: temukan sisi terang di balik adaptasi
Meski masa transisi kuliah kadang dirasa berat, akan selalu ada ruang untuk menemukan sisi positifnya. Malah, di tengah ketidakpastian, maba justru punya kesempatan eksplorasi yang harus dimanfaatkan.
Ruang untuk eksplorasi
Kampus itu ibarat taman besar yang sarat pilihan. Maba bisa ikut organisasi untuk perluas koneksi, berkenalan dengan teman kelas, atau sekadar jalan-jalan keliling kampus agar lebih akrab dengan suasana baru. Semakin dieksplor, semakin cepat juga rasa “asing” dengan kampus jadi familiar.
Kembangkan potensi
UKM dan komunitas bisa jadi wadah yang pas untuk cari dan asah bakat dan minat. Entah itu musik, olahraga, bahasa, atau literasi, akan selalu ada ruang untuk tumbuh. Dari sana, maba akan bisa sadar bahwa di samping persoalan akademik, kuliah adalah proses mengenali diri juga.
Mencoba hal-hal baru
Ikut kepanitiaan event yang disukai, aktif di kelas dan diskusi, atau sekedar ambil peran kecil di acara kampus saja sudah bisa jadi latihan yang berharga. Mungkin terasa awkward pada awalnya, tapi pengalaman-pengalaman inilah yang akan membentuk kepercayaan diri sekaligus memperluas wawasan.
Fase “antara” ini sangat wajar, dan justru penting untuk dilewati. Mungkin terlihat sekedar masa transisi, tapi di periode ini, jadikan kampus sebagai ruang belajar yang penuh dengan eksperimen, kesalahan kecil, sekaligus penemuan baru. Karena di momen inilah maba akan berlatih mengenali diri, mulai dari bagaimana cara mengatur kehidupan sehari-hari, memilih lingkungan yang serasi, sampai menemukan cara belajar yang sesuai.
***
#Mental #Mahasiswa #SivitasAkademika #RumahParaJuara #2025 #WorldClassUniversity #UNESASatulangkahdidepan #BersamaBisaBekerjaSama #IndonesiaEmas2045 #UnityinDiversity
Penulis : Firda Aulia Zahro
Editor : Nando Pudjo
Share It On: